Etika dan Nilai


Sistem Etika dan nilai dalam kehidupan sosial
Dalam hidupnya, manusia merupakan makhluk Alloh, makhluk individu, dan juga makhluk social. Sudah menjadi fitrahnya, bahwa dia memiliki tanggung jawab terhadap diri dan juga terhadap manusia yang lain. Tuntutan akan pengorbanan dan kepedulian terhadap kepentingan bersama selalu mengikuti kehidupannya. Akan tetapi dalam pelaksanaannya, hal ini tergantung pada individu itu sendiri.  Frekwensi dan intensitas tanggung jawab sebagai makhluk social bisa berubah menjadi semakin meningkat, jika kehidupan eksternal di sekitar individu baik.  Sebaliknya, bisa menjadi makin menurun, jika pengaruh eksternal di sekitar kehidupan individu buruk.
Dalam era teknologi dan informasi, begitu banyak perubahan social yang terjadi di sekitar kita. Hubungan social mulai renggang dan keseimbangannya menjadi terganggu. Sifat egois, mau menang sendiri, sombong, tidak peduli pada lingkungan sosial sering menghinggapi individu. Dan kemerosotan akhlak semakin meluas.
Banyak fenomena sosial di hadapan kita, membutuhkan pemecahan segera.   Coba perhatikan kejadian sehari-hari di sekitar kita. Seorang anak yang berani membantah perintah orang tua, berkata kotor dan kasar, bahkan sampai memaki-maki seorang ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya.  Di tempat yang lain, seorang siswa dengan beraninya memanggil seorang guru dengan sebutan yang yang tidak baik.  Jika diingatkan  dia tidak lagi menggubrisnya, diberi tugas tidak mau mengerjakannya, dan jika diterangkan dia tidak mempedulikannya dan berani berbicara sendiri.
Bagi sebagian masyarakat fenomena di atas dianggap sebagai   hal biasa.  Padahal, semua sikap dan tindakan tersebut, sangat tidak sesuai dengan etika dan nilai. Kita semua tahu bahwa kemajuan suatu masyarakat sangat dipengaruhi oleh akhlak anggota masyarakat itu sendiri. Sebuah masyarakat yang maju akan menjunjung tinggi sistem etika dan nilai. Mereka akan membiasakan untuk bertingkah laku yang baik dan bertanggung jawab.
Allah berfirman: QS. At-Tahrim, 66 : 6
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (٦)
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. 66. At-Tahrim: 6)
Sekalipun Islam menekankan tanggung jawab perseorangan dan pribadi bagi manusia dan menganggapnya sebagai asas, ia tidaklah mengabaikan tanggung jawab sosial dan menjadikan masyarakat solidaritas, berpadu dan kerjasama membina dan mempertahankan kebaikan. Semua anggota masyarakat memikul tanggung jawab membina, memakmurkan, memperbaiki, dan memerintahkan yang ma’ruf melarang yang mungkar dimana manusia memiliki tanggung jawab manusi melebihi perbuatan-perbuatannya yang khas, perasaannya, pikiran-pikirannya, keputusan-keputusannya dan maksud-maksudnya, sehingga mencakup masyarakat tempat ia hidup dan alam sekitar yang mengelilinginya. Islam tidak membebaskan manusia dari tanggung jawab tentang apa yang berlaku pada masyarakatnya dan apa yang terjadi di sekelilingnya atau terjadi dari orang lain. Terutama jika orang lain itu termasuk orang yang berada dibawah perintah dan pengawasannya seperti istri, anak dan lain-lain.
Allah berfirman :QS. Ali Imran, 3 : 110
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ (١١٠)
kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (QS. 3. Ali Imran : 110)
Dengan demikian sangat jelas bahwa tanggung jawab dalam Islam tidak hanya bersifat perseorangan tapi juga sosial sekaligus. Selanjutnya siapa yang memiliki syarat-syarat tanggung jawab ini tidak hanya bertanggung jawab terhadap perbuatannya orang-orang yang berada dibawah perintah, pengawasan, tanggungannya dan perbaikan masyarakatnya. Ini berlaku saat diri pribadi, istri, bapak, guru, golongan, dan lembaga-lembaga pendidikan pemerintah.

Macam-macam Sistem Etika dan Nilai
 Kebudayaan masyarakat memiliki dua unsure yakni etika atau norma dan nilai.  Dalam masyarakat Jawa jaman dahulu, apa yang telah berlaku dan menjadi kebiasaan masyarakat pada umumnya sangat dijunjung tinggi. Sekarang sudah banyak yang telah berubah. Di desa maupun di kota memiliki sistem etika dan nilai hampir sama. Mereka mengadopsi pola-pola kehidupan seperti yang ada di media massa.  Orientasi pada hal-hal yang bernilai ekonomi lebih diutamakan.  Waktu adalah uang.  Segala sesuatu sering dikaitkan dengan masalah untung dan rugi.
Dalam Islam meski jaman sudah semakin tua, namun peradaban tetap mendapat tempat utama.  Dalam kehidupan sehari-hari di rumah maupun dalam kehidupan social yang lebih luas, sikap untuk merendahkan diri dan bersifat lemah lembut harus selalu diterapkan. Ketika ada yang lebih membutuhkan, sesuatu yang bersifat pribadi dan untuk kepentingan diri sendiri untuk sementara hendaknya bisa disisihkan.  Kepedulian terhadap sesame menjadi prioritas bagi kita.  Pada waktu anggota masyarakat membangun rumah, mungkin jarang dilihat warga di sekitarnya bergotong royong membantunya. Bekerja mencari uang menjadi alasan bagi mereka untuk tidak bisa datang pada acara tersebut.  Kalau mereka sadar, mungkin bergotong royong walau hanya sebentar tentu akan dilaksanakannya demi kerukunan hidup bersama.
Dalam memecahkan persoalan, masyarakat kita biasanya mengambil keputusan keputusan setelah melakukan musyawarah untuk mufakat. Salah seorang anggota masyarakat menyampaikan pendapat dan yang lain mendengarkannya dengan baik. Secara bergantian mereka memberikan solusi yang mungkin bisa dilaksanakan demi penyelesaian persoalan yang ada. Sikap saling menghargai dan menerima terhadap keputusan yang diambil dilakukan dengan lapang dada atau dalam bahasa Jawa “legowo”. Sebagai masyarakat bermoral, siapapun tentunya bisa memelihara dan menjunjung tinggi kebiasaan-kebiasaan positif tersebut. 
Dalam memenuhi harapan di atas, di sekolah-sekolah terdapat pembinaan / pendidikan karakter. Hal tersebut sesuai dengan tujuan pembinaan kesiswaan di sekolah-sekolah dan tertuang dalam permendiknas nomor 39 tahun 2008 tentang pembinaan kesiswaan.  Disebutkan bahwa tujuan pembinaan kesiswaan antara lain  adalah menyiapkan siswa agar menjadi warga masyarakat yang berakhlak mulia, demokratis, menghormati hak-hak asasi manusia dalam rangka mewujudkan masyarakat yang madani”.

Manfaat Sistem Etika dan Nilai
Meskipun jaman sudah modern, namun sistem etika dan nilai tetap saja dibutuhkan.  Tidak satupun manusia di dunia ini yang mau disakiti perasaannya, tak diindahkan petuahnya, dan diinjak-injak harga dirinya.  Sikap saling menghargai dan menghormati  antar sesame manusia tetap harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa demikian?
Setiap orang memiliki hak untuk diperlakukan secara baik oleh orang lain; dihormati yang muda dan disayangi yang tua. Ini berarti yang muda wajib menghormati yang tua dan yang tua wajib menyayangi yang muda. Sebagaimana dalam HR.Abu Dawud dan Tirmidzi bahwa “Tidak termasuk umatku orang yang tidak menyayangi yang muda tidak menghormati orang yang lebih tua”.
Dalam sebuah keluarga, jika terdapat sikap seperti di atas maka di antara mereka akan saling membantu dan meringankan tugas yang lain. Kebiasaan bekerja sama dan memikul tanggung jawab juga dilakukan secara bersama. Dengan demikian keutuhan dan keharmonisan suatu keluarga juga akan terpelihara.
Pada waktu masyarakat kita menghadapi persoalan,  merupakan  tatanan nilai dalam kehidupan kita, bahwa segala persoalan hendaknya bisa diselesaikan melalui musyawarah mufakat. Tak berlaku istilah persoalan menjadi semakin pelik, karena setiap persoalan yang ada dapat dicari penyelesaiannya dengan berkumpul dengan seluruh warga. Dengan demikian, kehidupan warga menjadi semakin rukun dan semakin berkembang ke arah positif.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kondisi Mereka Yang Terkena Depresi

Bangkitkan minat baca generasi milenial